BOGOR, KABARBOGOR.ID – RSUD DR. KH Idham Chalid Ciawi kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui peluncuran inovasi SILIH TB (Sistem Layanan Integratif dan Humanis Tuberkulosis). Inovasi ini dirancang untuk memperkuat pendampingan pasien Tuberkulosis (TB) sejak diagnosis hingga dinyatakan sembuh.
Peluncuran inovasi tersebut diresmikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSUD DR. KH Idham Chalid Ciawi, dr. Agus Fauzi, M.Kes, dan disaksikan jajaran manajemen, para inovator, serta seluruh keluarga besar RSUD DR. KH Idham Chalid Ciawi.
Dalam sambutannya, dr. Agus Fauzi menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya dituntut menghadirkan pelayanan medis yang berkualitas, tetapi juga harus mampu membangun tata kelola yang efektif, efisien, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Transformasi pelayanan kesehatan harus didukung dengan inovasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, berbagai aksi perubahan yang diluncurkan hari ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat pelayanan serta meningkatkan kinerja organisasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Jawaban atas Tantangan Pengobatan TB
Inovasi SILIH TB digagas oleh dr. Nurillah Devi, MARS sebagai solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi pasien TB selama menjalani pengobatan yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Menurutnya, keberhasilan pengobatan TB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat dan layanan kesehatan, tetapi juga kepatuhan pasien dalam menjalani terapi hingga tuntas.
Di lapangan, pasien TB kerap menghadapi berbagai kendala, mulai dari kurangnya pemahaman mengenai penyakit, kejenuhan selama masa pengobatan, hingga minimnya pengawasan yang dapat memengaruhi keberhasilan terapi.
Melalui SILIH TB, pendekatan pelayanan tidak lagi hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan sejak awal diagnosis hingga sembuh secara medis.
Integrasikan Edukasi, Pemantauan Digital, dan Peran Keluarga
SILIH TB mengintegrasikan berbagai komponen layanan dalam satu sistem yang saling terhubung. Program ini mencakup edukasi pasien melalui e-book dan video pembelajaran, pemantauan kepatuhan minum obat berbasis WhatsApp dan Google Form, serta penguatan peran Pengawas Menelan Obat (PMO).
Menurut dr. Nurillah, inovasi pelayanan kesehatan harus mampu menjawab persoalan masyarakat dengan pendekatan yang sederhana, mudah diterapkan, dan memberikan dampak nyata.
“Kami melihat bahwa keberhasilan pengobatan TB tidak hanya ditentukan oleh obat yang diberikan, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang diterima pasien. Karena itu, SILIH TB dirancang untuk membangun sistem yang mampu menjaga komunikasi, meningkatkan kepatuhan, dan memastikan pasien tetap mendapatkan dukungan selama proses pengobatan berlangsung,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi digital dalam SILIH TB memungkinkan tenaga kesehatan melakukan pemantauan secara lebih cepat, terukur, dan berkelanjutan. Sementara itu, pasien memperoleh akses informasi yang lebih mudah dipahami sehingga meningkatkan kesadaran untuk menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Dukung Target Eliminasi TB
Lebih dari sekadar inovasi berbasis teknologi, SILIH TB mengedepankan pendekatan humanis dengan menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan. Keterlibatan keluarga dan PMO menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendampingan yang berkelanjutan dan mendukung keberhasilan terapi.
Di tengah upaya pemerintah mencapai target eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030, inovasi SILIH TB diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan angka keberhasilan pengobatan sekaligus memperkuat pengendalian TB di Indonesia.
Bagi dr. Nurillah Devi, inovasi bukan sekadar menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi menciptakan solusi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pasien dan sistem pelayanan kesehatan.